Lupa Password? | Pendaftaran
 
Event's Info

1 Mei 2013
KERJASAMA USAHA BERJANGKA (KUB), DMI INDONESIA
KERJASAMA USAHA BERJANGKA (KUB) DMI PRIMAGAMA INDONESIA 2011 DIPERSEMBAHKAN BAGI INDONESIA Banyak hal yang bisa dilakukan untuk turut serta membangun ... detail

ARTIKEL

Kamis, 8 September 2011, 19:24 WIB
INDONESIA MENCARI BAKAT (IMB)

HIBURAN DAN RUTINITAS HIDUP
Setelah seharian waktu dihabiskan untuk bersekolah, dan setelah satu pekan waktu digadaikan untuk sebuah pekerjaan, pulanglah kita masing-masing menuju suatu tempat yang disebut rumah tinggal, yang benar-benar menjadi tinggal rumah. Karena penghuninya benar-benar banyak meninggalkan rumah. Pada saat itulah di petang hari kita semua berkumpul bersama, antarA ayah, ibu dan anak-anak, melepas kepenatan dan merenda kehangatan. Hiburan sebuah alternatifnya. Dan yang paling mudah untuk didapatkan adalah sajian stasiun televisi yang begitu menggoda. Ada acara spesial untuk anak-anak, ada juga tontotan orang dewasa. Ada berita yang ringan sampai kasus-kasus yang berat. Ada hiburan yang asal-asalan sampai hiburan yang menawarkan alternatif baru. Indonesia Mencari Bakat (IMB), salah satu acara di sebuah stasiun televisi, yang sekarang ini banyak digemari. Begitu antusiasnya, masyarakat rela mengeluarkan biaya SMS yang jumlah nominalnya mencapai ratusan juta rupiah, meluangkan waktu dan mengeluarkan biaya untuk mendukung idolanya tampil di layar kaca ke Jakarta, tidak puas sekedar nonton di TV tetapi harus menyaksikan langsung di studionya di Jakarta. Ada yang salah ? Tidak ! Pada kesempatan ini, saya hanya ingin menyampaikan bahwa, apabila acara dikemas dengan baik maka akan laku dijual (disambut baik oleh masyarakat), dan sesuatu yang kreatif dan baru selalu dirindukan oleh pasarnya (komunitasnya). Pertanyaan yang kemudian muncul adalah : “Apakah IMB hanya ajang hiburan belaka ?”; “Apakah acara IMB akan bisa bertahan dalam waktu yang relatif cukup lama ?”;

 

WAHANA PENGEMBANGAN BAKAT DAN POPULARISME

Jelas bahwa acara IMB tidaklah sekedar sebagai ajang hiburan saja, ia bisa bernilai ekonomis, edukatif, dan sekaligus bernilai psikologis. Bernilai ekonomis karena bisa menggerakkan putaran rupiah yang lumayan besar. Stasiun TV, pengiklan, dan para peserta IMB nya juga turut kebagian. Secara edukasi, bahwa acara IMB ini, memberikan peluang bagi para calon peserta angkatan berikutnya untuk turut tampil agar bisa populer seperti para pendahulunya. Untuk itu para calon peserta IMB, lebih bersemangat berlatih dan belajar agar bisa tampil secara maksimal sehingga lolos ke Jakarta, dan berikutnya tampil dilayar kaca. Secara psikologi, IMB sebagai arena unjuk mental. Tidak semua orang yang punya ketrampilan punya mental juara di panggung yang ditonton banyak orang. Para peserta IMB siap dibandingkan, siap ditonton, siap dipuji, siap dikritik, dan siap untuk disingkirkan. Dari aspek spikologi pendidikan, IMB lebih pas bila disebut sebagai wahana pengembangan bakat, bukan penelusuran bakat, karena mereka harus sudah menguasai “sesuatu” terlebih dahulu, lalu dikompetisikan, baru kemudian ditampilkan ke publik. Apakah ini juga ada yang salah ? Tidak ! Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana agar acara IMB selalu menarik dan selalu ada yang baru agar lebih bisa lestari. Maka penelusuran bakat, bagi para calon peserta menjadi sesuatu yang penting. Tidak sekedar mencari orang “yang sudah jadi” tetapi mencari orang yang benar-benar punya potensi dibidangnya, sehingga masih bisa dikembangkan secara lebih maksimal lagi.

 

PENULUSURAN BAKAT DAN PROFESIONALISME

Banyak jalan menuju puncak popularisme, tetapi lebih sedikit diantaranya yang bisa bertahan dengan profesionalisme. Itu bisa terjadi karena yang satu hanya mengandalkan minat dan pelatihan belaka, sementara yang lainnya berbasis bakat, dikembangkan dengan minat (kesungguhan), lalu diberi fokus stimulasi berupa pelatihan yang terstruktur dan terencana sejak dari semula. Ada tiga cara ilmu pengetahuan untuk menelusuri bakat seseorang, antara lain : penelusuran bakat melalui Eksplorasi, Observasi dan Deteksi. Ketiga cara tersebut bisa dilakukan secara bersamaan atau dilakukan secara bertahap. Pada cara Eksplorasi, maka setiap kita (setiap anak) akan mencoba (atau dicobakan) semua jenis pelatihan, semua jenis keinginan, semua jenis minat, semua jenis alat permainan, dan semua jenis stimulasi lainnya. Dari semua “percobaan” itu maka akan diketahui mana yang paling disukai, paling disenangi dan paling menghasilkan prestasi yang paling tinggi. Dan prestasi yang paling tinggi itulah yang sebagian kita menyebutnya sebagai bakat. Pada tahap Ekplorasi ini, membutuhkan banyak “instrumen”, banyak stimulasi, banyak waktu dan tentu banyak biaya. Bagi mereka yang memiliki banyak biaya, maka tahap eksplorasi ini tidak menjadi kendala (kecuali dari aspek waktu, yang memang tidak bisa dibarter dengan apapun juga). Pada tahap kedua, muncul penelusuran bakat melalui metode Observasi. Setiap anak dicermati, diteliti, dikaji, diberikan beberapa stimulasi, bisa berupa alat-alat permainan, bisa berupa wawancara, atau bisa juga melalui alat-alat tes psikologi yang disesuaikan dengan kelompok usianya. Kemudian muncul skor-skor angka dan rekomendasi. Dan biasanya pada cara ini akan ada catatan bahwa “hasil tes ini sangat dipengaruhi oleh kondisi psikologis pada saat anak dites, dan bisa berubah dikemudian hari”. Pada tahap ketiga, adalah penelusuran bakat melelaui Deteksi. Dengan deteksi ini, seseorang bisa diketahui bakatnya melalui teknologi komputer (biometri), tanpa wawancara, tanpa menjawab pertanyaan-pertanyaan, dan tidak bisa dimanipulasi. Pada tahap sekarang ini, tahap deteksi ini menggunakan media “sidikjari” (fingerprint test), bukan “garis tangan” (palmistri). Teknologi selalu berkembang, diikhtiarkan untuk kemudahan dan peradaban kehidupan manusia. Tidak ada sendi kehidupan di zaman modern ini yang lepas dari pengaruh teknologi. Tingkat akurasi metode sidik jari ini mencapai angka 90 %. Nah, bagi anda yang ingin mengembangkan bakat, maka langkah awalnya adalah mengenali bakat terlebih dahulu, kemudian mengembangkannya sekaligus mengarahkan minat yang selaras dengan bakatnya. Semakin dekat minat dengan bakatnya, semakin mudah mewujudkan cita-citanya. Kenal bakat sejak dini lebih mudah meraih prestasi. Semoga bermanfaat. Terimakasih.

Komentar terkini (0 komentar)

Baca Komentar        Kirim Komentar


Pencarian Artikel    
Kata Kunci





Online Support

Tech.Psikologi Lab

Teknis Fingerprint


Kantor Pusat DMIPrimagama
Ruko Permai Pogung Lor No. 2,3,4
Ring Road Utara, Yogyakarta
Telp (0274)625168
Mobile : 085-328-012345
PIN BB : 7DF691B3
Email: eko@dmiprimagama.com

Home | Profil | Berita | Produk | Artikel | Galeri Photo | Member | Kontak DMI PRIMAGAMA 2012, All right reserved