Lupa Password? | Pendaftaran
Event's Info

1 Mei 2013
KERJASAMA USAHA BERJANGKA (KUB), DMI INDONESIA
KERJASAMA USAHA BERJANGKA (KUB) DMI PRIMAGAMA INDONESIA 2011 DIPERSEMBAHKAN BAGI INDONESIA Banyak hal yang bisa dilakukan untuk turut serta membangun ... detail

ARTIKEL

Kamis, 8 September 2011, 19:22 WIB
PENDIDIKAN BERBASIS KARAKTER

Oleh : Drs. H. Teguh Sunaryo
Direktur DMI Primagama

Bagi saya ada dua hal yang harus dibahas dalam judul atau tema tersebut diatas. Pertama perihal istilah pendidikan dan kedua perihal istilah karakter. Ada dua definisi pendidikan (dalam arti yang luas) yang saya pegang teguh.

Definisi Pertama, pendidikan (dalam arti yang luas) adalah upaya mengembangkan potensi menjadi prestasi melalui pemberian fokus stimulasi untuk memiliki kompetensi dan reputasi.

Definisi Kedua, pendidikan (dalam arti yang luas) adalah upaya mewujudkan visi berbasis potensi melalui serangkaian fokus stimulasi untuk memiliki kompetensi dan prestasi. Dari kedua definisi tersebut sebenarnya secara implisit sudah ada muatan tentang apa yang disebut karakter. Kesimpulan sementara, bahwa pendidikan yang dilaksanakan dengan benar dan bertanggungjawab itu sudah inklud di dalamnya sudah ada nila-nilai atau cakupan yang mengantarkan seseorang untuk memiliki karakter.

Setidaknya orang yang punya karakter (tentu yang baik dan normal) pastilah memiliki sifat-sifat yang disebutkan dalam dua definisi pendidikan tersebut, misalnya punya ciri-ciri: punya potensi, siap diberi stimulasi, punya prestasi, kompetensi, visi dan tentu reputasi. Andai kedua definisi pendidikan tersebut dianggap benar maka istilah pendidikan berbasis karakter tidaklah perlu ada. Menurut kamus besar bahasa indonesia, karakter adalah sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain. Sebenarnya tanpa karakter sekalipun seseorang itu hakekatnya sudah berbeda bila dibandingkan dengan yang lain, namun tentu penegasan tersebut diletakkan pada perbedaan perilaku yang positif yaitu produktif dan bermanfaat bagi sesama. Dan perilaku tersebut bagian dari ciri-ciri orang yang berprestasi dan berreputasi. Dapat pula disederhanakan bahwa orang yang berkarakter adalah orang yang memiliki sifat jujur, bersih, sopan, santun, tanggungjawab dan bermanfaat bagi sesama.

Andai saja kita mau jujur, beberapa mata pelajaran di dalam kurikulum kita sudah ada muatan pendidikan yang berbasis karakter, misalnya : Pelajaran agama, PPKn, Bahasa Indoensia yang baik dan benar. Ketiga mata pelajaran tersebut sama sekali tidak pernah mengajarkan kejelekan. Dengan pelajaran agama kita diajari untuk mencintai Tuhan dan sesama makhluk. Dengan PPKn kita diajari untuk cinta pada negara dan sportif untuk menjalankan hak dan kewajibannya. Dengan bahasa indonesia kita diajari dan dituntun untuk bisa berbahasa yang baik, benar dan santun. Lantas kekeliruannya dimana kok masih dibutuhkan pendidikan berbasis karakter ?

Pendidikan berbasis karakter dibutuhkan (setidaknya pada saat ini) sebab banyak orang yang berpendidikan tinggi dan jabatannya tinggi masuk penjara, tertangkap KPK, terbukti korupsi dan bertindak asusila. Selama masih ada orang yang masih memiliki karakter negatif atau perilaku negatif maka selama itu pula pendidikan karakter masih dibutuhkan. Bagi saya konsep pendidikan karakter di Indonesia tidak perlu dibuat yang aneh-aneh. Kita sudah memiliki dasar negara pancasila yang didalamnya sudah mengandung ajaran tentang karakter. Pancasila sebagai dasar negara sudah mampu membedakan bangsa kita dibandingkan dengan bangsa yang lain. Dengan pendidikan karakter berbasis pancasila maka manusia indonesia berkarakter yang berketuhanan yang maha esa, berkemanusiaan yang beradab, kebersamaan dalam persatuan, bermusayawarah dalam bermasyarakat, dan berkeadilan sosial antar sesama. Dalam perspektif keberbakatan maka pendidikan karakter adalah menyangkut : Bakat (potensi dasar alami), Harkat (derajat melalui penguasaan ilmu dan teknologi) dan Martabat (harga diri melalui etika dan moral). Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana menyusun kurikulum dan silabusnya dalam tiga dimensi model pendidikan kita ? Pada pilar pendidikan formal, non formal dan informal ? Pada jenjang sekolah dasar, menengah dan perguruan tinggi ? Semuanya membutuhkan keahlian dan pengalaman yang memadai, serahkan semuanya pada ahlinya apabila tidak maka dunia akan berantakan. Semogalah jaya Indonesiaku. Terimakasih.

Komentar terkini (0 komentar)

Baca Komentar        Kirim Komentar


Pencarian Artikel    
Kata Kunci




Online Support

Tech.Psikologi Lab

Teknis Fingerprint


Kantor Pusat DMIPrimagama
Ruko Permai Pogung Lor No. 2,3,4
Ring Road Utara, Yogyakarta
Telp (0274)625168
Email: info@dmiprimagama.com
Home | Profil | Berita | Produk | Artikel | Galeri Photo | Member | Kontak DMI PRIMAGAMA 2010, All right reserved